You are here:

PILGUB JABAR LAUTAN SELEBRITIS

Bandung,Calon Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat yang diramaikan dengan munculnya nama-nama dari dunia keartisan seperti Dede Yusuf, Rieke Dyah Pitaloka dan Deddy Mizwar mendapat perhatian besar dari  BPP IMA AMS (Badan Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Angkatan Muda Siliwangi) dengan diselenggarakannya diskusi di Gedung Indonesia Menggugat Jl. Perintis Kemerdekaan No. 5 Bandung (22/11). Dengan mengambil tema diskusi “ Fenomena Artis Dalam PILKADA Jawa Barat 2013, Kemunduran Atau Kemajuan?”.

Diskusi ini menghadirkan 3 narasumber, yaitu : Khalid Zabidi S, sn. M.sn selaku Peneliti dari Universitas Paramadina, Matdon selaku Rois, Am Majelis Sastra Bandung dan Karel Harto Susetyo seorang Analis Politik Point Indonesia/Peneliti UI.

Menurut Karel Harto Susetyo, Analis Politik Point Indonesia/Peneliti UI mengatakan bahwa banyak artis yang mengandalkan kepopuleran sebagai modal pertama dalam melangkah ke penggung politik. Ada 4 faktor yang menyebabkan artis memilih jalur politik, yaitu : (1) popularitas, ditimbulkan dari dunia TV yang begitu hebat dibandingkan dunia baca, (2) menjamurnya budaya POP, (3) masyarakat sangat haus akan figur simbolik pahlawan yang dicerminkan artis lewat peran-perannya dalam TV, dan (4) media TV sangat dominan, citra politisi profesional rusak karena korupsi, skandal dan lain-lain yang ditayangkan oleh TV.

“Buruknya kinerja Parpol menyebabkan masyarakat enggan berinteraksi dengan dunia politik dan menyulitkan Parpol melakukan kaderisasi, sehingga Parpol melakukan rekrutmen instan dari kalangan artis. Parpol merekrut orang-orang populer untuk menunjangnya pada saat pemilihan nanti”, ungkapnya.

Khalid Zabidi S, sn. M.sn, Peneliti dari Universitas Paramadina mengatakan bahwa pragmatisme politik di Indonesia menetapkan calon kandidat yang mendapatkan suara terbanyak berhak mendapatkan posisi, maka banyak artis dengan popularitasnya mencalonkan dirinya dan mendapatkan sambutan hangat di masyarakat, berbeda dengan aktivis yang tidak terkenal.

Khalid menambahkan bahwa pertempuran di Jawa Barat terjadi antara politik citra artis dengan mesin politik asli. Siapa yang mampu menjawab permasalahan Jawa Barat dan mampu menggerakan mesin politik dan masyarakat itu yang bisa memenangkan Pilkada Jawa Barat.

“Jangan mau secara murah suara kita diperdagangkan. Pemilih punya hak pilih, kita adalah subjek terpenting perubahan momentum Jawa Barat bukan calon kandidat”, tegasnya.

Sedangkan menurut Matdon, Rois, Am Majelis Sastra Bandung mengungkapkan bahwa ‘keberhasilan’ Dede Yusuf menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat membuat banyak artis-artis lain bermunculan dan ‘menikah’ dengan partai politik. Kehadiran Deddy Mizwar dan Rieke Dyah Pitaloka dalam kancah politik Jawa Barat menjadikan ‘Pilgub Jawa Barat Lautan Selebritis’.

Matdon menambahkan bahwa jual tampang dan popularitas belum tentu membuat rakyat senang, memang siapa pun warga negara berhak untuk terjun dalam dunia politik. Namun biasanya artis yang memasuki wilayah politik biasanya mereka yang sudah mencapai puncak popularitas dan ingin tetap eksis setelah masa keemasannya berakhir.

“Mengaktualisasikan diri dan menjadi politikus itu perlu berpuluh-puluh tahun, perlu berdarah-darah dan perlu pengorbanan yang tinggi, tidak ujug-ujug bim salabim abracadabra mampu merealisasikan janji pada rakyat, politikus saja sangat sukar untuk membuktikan itu”, tegasnya.(Novie/MaI)