You are here:

DISKUSI URGENSI MEDIA

MEDIA

Bandung (MaI) Media memiliki fungsi sebagai kontrol sosial. Pemerintahan legislatif, yudikatif dan eksekutif selalu menjadi sasaran hangat untuk media. Semua yang dilakukan oleh ketiga kuasa negara tersebut tak pernah luput dari perhatian media. Kontrol sosial yang dilakukan oleh media adalah mengawasi kinerja dari tiga lembaga tersebut, jika ada keganjalan media tak kan tinggal diam untuk mengusut kasus tersebut.

Kini menjadi pertanyaan besar bagaimana dengan media itu sendiri, siapa yang mengawasi kerja media. Apakah media bergerak tanpa ada yang mengawasi, itulah yang menjadi kajian khusus dalam diskusi Komunitas Anak Tangga (11/5).

Menurut pemateri, Enjang Muhaemin komunitas yang konsen di bagian media harus mampu menjadi pengawas bagi kinerja media. Komunitas jangan hanya memikirkan untuk menjadi sebuah media, ada saatnya kita mencoba untuk menjadi kontrol media. Hal ini dibutuhkan berdasarkan perkembangan media saat ini. Media mainstrim yang independen sulit ditemukan dewasa ini. Keobjektivan media pun menjadi relatif.

Permasalahan yang paling kongkrit pada media saat ini adalah kepemilikan modal. Media saat ini hanya dikuasai oleh beberapa kalangan yang memiliki kekuatan modal. Hal ini sangat berpengaruh pada isi yang disampaikan oleh media tersebut. Hal ini menjadi lebih kompleks ketika politik masuk dan membawa pengaruh besar pada pesan yang disampaikan oleh media tersebut.

Inilah yang menjadi tugas dari komunitas yang bergerak di bidang kajian media. Mengawasi sejauh mana penyimpangan yang dilakukan oleh media terkait dengan pesan yang disampaikan dan keberpihakan media tersebut. Terkadang lembaga pengawas media yang telah ada pun masih sulit untuk bersikap independen karena penyokong dana selalu ada dibelakang mereka.

Komunitas pun tak mampu berdiri sendiri dalam mengutarakan hasil risetnya tentang pengawasan sebuah media, untuk mampu diterima oleh publik harus didukung oleh figur yang mampu dipercaya dan memperkuat argumen dari hasil riset tersebut.

Itulah yang kini harus kita perhatikan, media bukanlah satu-satunya sarana pengawasan pemerintah. Kita pun berperan aktif menjadi pengawas media dalam melakukan tugasnya.

 
Notice: Undefined variable: total_div in /home/maklumat/public_html/templates/jv_news_ii/html/com_content/section/blog.php on line 51

Notice: Undefined variable: total_div in /home/maklumat/public_html/templates/jv_news_ii/html/com_content/section/blog.php on line 55

Ust. Monif Y. Rasulullah, PHD: "Lebih Barakah Tanpa Pacaran"

Bandung (MaI) Bedah buku menjadi salah satu agenda acara di Bandung Islamic Book Fair 2013, yang diselenggarakan di Landmark Jl. Braga No. 129 Bandung. Membedah buku "Lebih Barakah Tanpa Pacaran" karya Ust. Monif Y. Rasulullah, PHD menjadi agenda pada Sabtu (4/5) yang menarik untuk didiskusikan mengingat pacaran sudah menjadi budaya di negeri ini.

Baca selengkapnya...

 

Notice: Undefined variable: total_div in /home/maklumat/public_html/templates/jv_news_ii/html/com_content/section/blog.php on line 55

Bem-J Jurnalistik Gelar Workshop Televisi Dan Entrepreneur Mahasiswa

Bandung (maklumat-independen.com) - Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik gelar workshop media televisi dan entrepreneur mahasiswa (7/4). Acara yang diselenggarakan di Aula Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi dihadiri oleh beberapa jurnalis dari berbagai stasiun televisi. Dominasi peserta yang hadir merupakan mahasiswa jurusan ilmu komunikasi jurnalistik. Acara ini juga sekaligus memberikan motivasi kepada peserta agar tidak menutup diri dari dunia luar.

Baca selengkapnya...

 
 

Notice: Undefined variable: total_div in /home/maklumat/public_html/templates/jv_news_ii/html/com_content/section/blog.php on line 55

MEDIA PENYIARAN MENUJU MASYARAKAT DEMOKRATIS

Bandung (MaI) Siapa yang tak mengenal televisi dan radio?. Media penyiaran menjadi sesuatu yang tak asing lagi di kalangan masyarakat. Kini masyarakat sangat akrab dengan kehadiran media penyiaran yang semakin mudah untuk diperoleh. Terpaan media semakin berpengaruh pada karakter masyarakat. Kebebasan pers berbeda dengan pers yang bebas, karakteristik pesan televisi itu ada tiga, masuk ke otak tanpa dihantarkan, masuk tanpa pemikiran dan tidak memberi pemisahan pada khalayak. Itulah yang disampaikan Dede Mulkan selaku pembicara dalam Talk Show Media Penyiaran di aula Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (8/4). Talk show tersebut diselenggarakan oleh Komunitas Anak Tangga yang bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

Talk show yang mengusung tema urgensi media penyiaran, menuju masyarakat demokratis ini mendatangkan tiga pemateri yang berkenaan dengan bidang tersebut. Sebagai pihak dari regulasi hadir Neng Athia sebagai ketua KPID Jabar, Dede Mulkan sebagai Dosen Ilmu Komunikasi dan Iman sebagai perwakilan dari Jaringan Radio Komunitas. Acara tersebut dipandu pula oleh seorang moderator dari akademisi Ahmad Fuad selaku dosen Ilmu komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dalam talk show tersebut dikupas berbagai permasalahan terkait dengan penyiaran saat ini. Banyak yang mempertanyakan bagaimana peran KPID ketika masih saja siaran-siaran televisi yang tak layak tayang masih bisa muncul di layar kaca. Neng Athia selaku ketua KPID Jabar menjawab bahwa sumber daya manusianya yang disediakan tidak mencukupi untuk memantau semua tayangan televisi yang menjadi bagiannya.

“Televisi lokal saja sekarang jumlahnya di Jawa Barat telah mencapai 32, belum lagi televisi swasta, sedangkan SDM yang disediakan hanya 7 orang untuk tingkat provinsi, apa itu cukup?”jelas Neng Athia dalam pemaparannya.

Dalam diskusinya pun Neng Athia menyisipkan pesan agar mahasiswa sebagai kaum terpelajar dapat membantu mengawasi penyiaran yang kini tidak sehat. Dijelaskan bahwa KPID menerima laporan dan pengaduan tentang tayanga-tayangan yang tak layak. Diharapkan dalam membentuk masyarakat demokratis, masyarakatpun ikut menyuarakan tentang apa-apa yang tak layak ditayangkan. (Desti/MaI.com)

 

Notice: Undefined variable: total_div in /home/maklumat/public_html/templates/jv_news_ii/html/com_content/section/blog.php on line 55

WORKSHOP TELEVISI DAN ENTREPRENEUR MAHASISWA

Bandung (MaI) Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik gelar workshop media televisi dan entrepreneur mahasiswa (7/4). Acara yang diselenggarakan di Aula Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi dihadiri oleh beberapa jurnalis dari berbagai stasiun televisi. Dominasi peserta yang hadir merupakan mahasiswa jurusan ilmu komunikasi jurnalistik. Acara ini juga sekaligus memberikan motivasi kepada peserta agar tidak menutup diri dari dunia luar.

Acara yang digelar selama dua hari ini menyuguhkan pembicara dari berbagai profesi di bidang pertelevisian. Mulai dari produser, kameramen, editor hingga pengusaha sukses pun ikut mewarnai workshop televisi tersebut. Setiap pembicara memiliki topik masing-masing yang disesuaikan dengan profesi mereka.

Hari pertama acara dipadati oleh pemberian materi dari setiap profesi. Iman S Nurdin selaku ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Jabar membuka sesi pertama pemberian materi tentang dunia jurnalis televisi. Selain Iman S Nurdin ada beberapa pemateri yang meramaikan acara seperti Ina Cookies seorang pengusaha sukses yang berbagi pengalaman hidupnya untuk memotivasi mahasiswa dalam berwirausaha. Setelah diberikan pengantar tentang jurnalistik televisi dan entrepreneur, peserta digiring oleh Cecep Muhammad Muslim seorang kameramen Trans TV dan Lufty Ferdiansyah kameramen national geografic untuk mengenal lebih dalam tentang kameramen. Tak hanya mendapatkan wawasan tentang kamera, peserta pun diajak mengenal dunia produser oleh Dani Maulana selaku produser Kompas TV.

Meskipun tentang keproduseran telah dipaparkan oleh Dani pada hari pertama, namun Bambang Mulyono yang brkesempatan hadir pada hari kedua, sedikit mengulas lebih dalam tentang dunia seorang produser. Menurut penuturannya produser bekerja tidak sekedar memimpin sebuah program tapi juga mampu menjaga dan mengontrol kedekatan psikologis dengan bawahannya.

“Kita sebagai produser, gak bisa asal nyuruh kita harus bisa tau apakah jika mendapat tugas itu dia mampu tidak atau mungkin ada kendala-kendala yang mengganggu” ujarnya menanggapi pertanyaan salah satu peserta.

Selain memaparkan hal terkait keproduseran, Bambang pun memberikan motivasi kepada peserta agar tidak berkecil hati ketika hendak magang di televisi. Ia menceritakan tentang pengalamannya yang bukan lulusan dari universitas terkenal, tapi ia buktikan bahwa ia bisa sukses tanpa memandang latar belakang kampus.

“Lulusan kampus nomor dua bisa jadi nomor 1” pernyataan terakhirnya sebagai pesan kepada semua peserta sebelum mengakhiri acara. (Desti/MaI.com)

 

 
 

Halaman 7 dari 23

Info Olahraga

LARANGAN JILBAB DALAM ASEAN GAMES 2014 SEOUL (REUTERS/MaI.com) Informasi tak sedap muncul dari pertandingan Asean Games 2014, larangan menggunakan jilbab menyebabkan beberapa atlet mengundurkan diri dari cabang olahraga yang mereka geluti. Salah satunya tim putri bola basket asal Qatar yang resmi mengundurkan diri karena beberapa pemainnya menggunakan jilbab....
Baca selengkapnya...
GELORA BANDUNG LAUTAN API BANDUNG (MaI) Vladimir Vujovic,...
Baca selengkapnya...
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Entertainment

AVENGERS GEBRAK INDONESIA JAKARTA (MaI.com) Banyak sekali...
Baca selengkapnya...
SATU NASYID, PERSEMBAHAN PERTAMA BANDUNG (MaI.com) 22 Maret 2004...
Baca selengkapnya...
JIKA BINTANG K-POP JADI TENTARA SEOUL (MaI.com) Semua pria dewasa...
Baca selengkapnya...
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Seks & Kesehatan

MENDADAK MEMAR JAKARTA (MaI.com) Tanpa disadari...
Baca selengkapnya...
PENTINGNYA AURANSI KESEHATAN Asuransi merupakan upaya memindahkan...
Baca selengkapnya...
MA-MIN YANG TURUNKAN KOLESTEROL Kolesterol dapat dikategorikan...
Baca selengkapnya...
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com