Mengubah Paradigma Dakwah

Cetak

Minggu, 18 Desember 2011 09:41

BELUM hilang dari ingatan aksi Azahari Cs melakukan berbagai teror yang meluluhlantakan nilai-nilai kemanusiaan. Gedung-gedung berpelat asing dibom, nyawa-nyawa korban tak bersalah pun bergelimpangan.

Aksi teror tidak sampai Azahari, meski terbunuh dalam baku tembak dengan tim Densus 88 di Kota Malang Jawa Timur,  berbagai aksi serupa terus bermunculan. Terdahsyat, aksi nekat teroris meledakan bom di  masjid lingkungan Polres Cirebon Kota dengan pelaku M Syarif.

Dari rangkaian peristiwa teror tersebut, secara bersamaan menimbulkan stigma radikal yang tertuju pada kaum Islam. Modus kekerasan hingga menyebabkan kehancuran pun seolah milik gerakan yang dilandasi nilai-nilai jihad, notabene berasal dari ajaran Islam. Padahal, ajaran Islam sangat komprehensif dan tidak hanya mengenai soal jihad.

Degan cap buruk yang melekat itu, berbagai kelompok Islam berusaha meluruskan persepsi keliru tersebut. Langkah utamanya, menyosialisasikan pemahaman yang tepat sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam yang berinti Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi sekalian alam).

Secara konkret lagi, mendiskusikan metode dakwah yang dinilai menjadi inspirasi awal bagi gerakan kekerasan. ”Kami ingin mengubah persepsi yang muncul dari beberapa pihak yang masih mengaitkan teroris dengan Islam.  Kami berpandangan, terlalu sepele kalau Islam hanya dipandang sebagai gerakan teror, justru ajaran Islam ini mengajak pada kebenaran dan meninggalkan kebathilan,” jelas Taufik Awwaludin, penggagas kegiatan ‘Mencari Solusi Metode Dakwah yang Tepat’, sebagai upaya mengubah stigma negatif teroris Islam.

Kegiatan yang digelar di Bandung kemarin itu, digelar Pengurus Daerah (PD) Pemuda Persatuan Islam (Persis) Kabupaten Bandung, PC Pemuda Persis Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung bekerja sama dengan Lembaga Kajian Independen (LKI). Unsur pemuda Islam ini tergerak untuk menghilangkan  sentiment negatif terhadap Islam atas perisatiwa terror yang terjadi di Tanah Air.

Dengan menghadirkan narasumber Dewan Tafkir Penguru Pusat (PP) Persis Latif Awaludin, MA, Pengamat Dunia Islam Ahmad Arifin Kosasih, Koordinator  Aliansi Pergerakan Islam Jabar Asep Syarifudin, dan mantan Aktivis Jamaah Islamiyyah (JI), Ir Hadi Surya.

Para ulama yang hadir sepakat memberikan pemikiran yang konstruktif terhadap metode dakwah yang bermanfaat bagi kemajuan umat dalam mengimplementasikan Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).

Direktur Lembaga Kajian Independen, Wawan Wanisar menyorot, melalui kegiatan ini diharapkan mampu menepis pemikiran sebagian orang yang mengaitkan radikalisme dan terorisme dengan Islam. Wawan  optimis para ulama memberikan solusi  terhadap metode dakwah yang tepat bagi kemajuan Islam dan agama Islam di masa akan datang. “Pertemuan seperti ini diharapakan terus digalakkan,” terangnya. (Wanisar/Mal)


Newer news items:
Older news items: