LKKPH Neraca Gelar FGD Pancasila Sebagai Representasi Keberagaman Ideologi Bersama Berbagai Organisasi Gerakan

Cetak

LAST_UPDATED2 Ditulis oleh AdminMaI.Com Jumat, 29 September 2017 00:00

Bandung, – LKKPH Neraca kembali menggelar program rutin lembaga yaitu Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “PANCASILA SEBAGAI REPRESENTASI DAN UNIFIKASI KEBERAGAMAN IDEOLOGI DI INDONESIA”.

Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Kamis pagi tanggal 28 September 2017 di Beethoven meeting room Hotel California Kota Bandung tersebut dihadiri oleh perwakilan organisasi-organisasi gerakan Islam, Nasionalis, dan Sosialis-Kiri, diantaranya adalah BKLDK, FPMI, GEMA Pembebasan, GmnI, PMII, Pembebasan, dan JPB.

Tema tentang Pancasila sebagai representasi keberagaman ideologi diangkat sebagai sebuah bentuk kritik terhadap pertanyaan/pernyataan yang selama ini sering dilontarkan untuk menggugat Pancasila sebagai dasar negara sekaligus asas pemersatu bangsa, sekaligus menggali perspektif ideologis masing-masing peserta dalam memandang Pancasila.

Secara umum, para peserta memandang bahwa Pancasila sudah mengakomodir nilai-nilai perjuangan dari masing-masing ideologi yang ada di Indonesia karena nilai-nilai Pancasila memang bersifat universal. Universalitas Pancasila ini yang kemudian dikritik oleh perwakilan peserta, seperti yang disampaikan oleh Mashun Sofyan dari BKLDK Jabar yang menyatakan bahwa “sifat universal dari nilai-nilai dalam Pancasila yang kemudian membuat Pancasila menjadi multi tafsir dan cenderung hanya menjadi alat bagi kekuasaan untuk mempertahankan status quo”.

Kecenderungan Pancasila yang multi tafsir tersebut dibantah oleh Iji Jaelani yang mewakili PMII dengan menyatakan bahwa “tafsir tentang Pancasila secara formil ada di dalam konstitusi dan diselanggarakan berdasarkan undang-undang yang ada di bawah konstitusi, sehingga tidak mungkin Pancasila menjadi multi-tafsir, yang ada hanyalah penyelewengan dalam mengamalkan Pancasila”.

Dalam pandangan LKKPH Neraca, gugatan terhadap Pancasila yang dikaitkan dengan kondisi-kondisi negatif di dalam negeri dalam berbagai bidang, merupakan gugatan yang salah alamat, karena sejatinya baik secara historis maupun dalam perspektif nilai, Pancasila sudah mengandung nilai-nilai universal yang juga diperjuangkan oleh ideologi-ideologi lain yang hidup di Indonesia, seperti fundamentalisme Islam dan Komunis-Marxisme. Permasalahan utamanya adalah relevan atau tidaknya Pancasila, tetapi komitmen dan konsistensi penyelenggara negara dan bangsa ini dalam menjalankan atau mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Di akhir diskusi, moderator diskusi mendorong komitmen seluruh peserta diskusi agar membangun gerakan bersama dalam rangka mengawal dan mendorong implementasi Pancasila sebenar-benarnya, sehingga cita-cita bangsa Indonesia seperti yang dinyatakan dala Pembukaan UUD 1945 dapat tercapai.


Newer news items:
Older news items: