Kasus Pembakaran Bendera Tauhid Harus Ditindak Secara Hukum

Cetak

Ditulis oleh AdminMaI.Com Selasa, 30 Oktober 2018 21:27

Bandung, (MaI.Com) - Tokoh agama dan tokoh organisasi Islam di Jawa Barat meminta agar kasus pembakaran bendera berlafads Tauhid diselesaikan secara hukum, tidak secara politis.

Hal tersebut diungkapkan 15 tokoh dalam Focus Grup Disussion yang diselenggarakan An Najmus Tsaqib Bandung, Selasa (30/10/2018). Hadir dalam diskusi tersebut yakni Mashun Sofyan dari Visi Generasi, Ardhiana (Gema Pembebasan Jabar), KH Musrofa (MUI), Hari Nugraha (KPUB/FUI), Ust Abu Ghifari (Tazkia Forum), H Asep Kurnia (Persis) dan Agung Setiawan (Pemuda Istiqomah).

Abu Ghifari dari Tazkia Forum mengatakan kasus pembakaran bendera tauhid sagat sulit untuk dikatakan tidak bersinggungan dengan ranah politik, karena sedari awal, pihak-pihak berkepentingan dudah berupaya menunggangi kasus ini untuk kepentingan politik.

“Para politisi dengan berbagai pernyataannya yang justru memperkeruh kasus ini. Hal yang lebih berbahaya adalah kepentingan politik pada politisi terhadap kasus ini, dimana pernyataan para politisi justru berdampak negative terhadap kerukunan umat,” paparnya

Hal berbeda diungkapkan dari Persis, Asep Kurnia, menurutnya, kisruh dalam umat Islam dimulai dari kasus Ahok, sejak saat itu, umat Islam dan isu-isu terkait Islam menjadi komoditas politik.

“Dalam kasus pembakaran bendera tauhid, saya melihat ada keterangan yang tidak masuk akal yang disampaikan oleh pihak kepolisian, mulai dari profil pembawa bendera, motif pembakaran, hingga perkembangan kasusnya,” tegasnya.

Ia menyebutkan tindakan pembakaran itu sendiri sudah termasuk perbuatan jahat, ada niat maupun tidak. “Permasalahan dari kasus ini bagi saya adalah dampaknya, dimana kasus ini telah mengancam ukhuwah Islamiyah; Umat Islam harus punya kesamaan sikap dalam hal ini, yaitu mendorong penegakan hukum ini secara adil,” terangnya.

Sementara dari MUI, KH. Musrofa menyeutkan bila penegakan hukum yang adil adalah dalam rangka memberi efek jera dan sebagai contoh bagi seluruh pihak agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.

“Sebelum kasus pembakaran bendera, kami juga mengalami kasus yang berkaitan dengan lafadz tauhid sebagai simbo, yaitu kasus penggerudukan markas visi generasi karena kami dianggap sebagai bagian dari HTI yang sedang mengkampanyekan program Sebar satu juta topi tauhid, “ tutur, Mashun Sofyan dari Visi Generasi.

Ia meneybtukan pihaknya mengutuk keras kasus pembakaran bendera tauhid, “Kita harus sering membuka ruang-ruang tabayyun dan komunikasi diantara ormas-ormas Islam. Ke depan kita akan menjalankan program 1 juta bendera tauhid yang dirilis pada aksi tanggal 2 November di Jakarta,” tuturnya.

Dari para pembicara mengharapkan bila adanya penegakan keadilan secara hukum, tidak menjadi konsumsi politik. (tie)


Older news items: