Maret 01, 2021

PERPANJANGAN USIA PENSIUN PNS

JAKARTA (MaI) Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang pensiun per 1 Febuari 2014 ke atas, usia pensiunnya diperpanjang dua tahun lagi. Hal itu dikatakan Sekretaris Kementerian, Tasdik Kinanto.

Menurutnya, pemberlakuan batas usia pensiun PNS tersebut didasarkan pada Undang-undang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah disahkan pada 19 Desember 2013 dan masih dalam proses penandatanganan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Perubahan batas usia pensiun PNS, lanjut Tasdik, berlaku usia 58 tahun untuk pegawai eselon III ke bawah dengan jabatan administrasi dan batas usia 60 tahun untuk pegawai eselon II dan I (Jabatan Pimpinan Tinggi).

Ia menjelaskan, sedikitnya 11.000 PNS yang masih tertahan masa pensiunnya akan memiliki kesempatan untuk tetap mengabdi menjadi aparat negara.

Dalam undang-undang Aparatur Sipil Negara disebutkan bahwa PNS dapat diberhentikan secara hormat karena beberapa alasan, antara lain meninggal dunia, permintaan sendiri (pengunduran diri), mencapai batas usia pensiun, perampingan organisasi atau kebijakan Pemerintah yang mengakibatkan pensiun dini.

Selain itu juga karena tidak cakap jasmani dan/atau rohani sehingga pegawai yang bersangkutan tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban sebagai PNS.

Sementara itu, PNS bisa diberhentikan dengan tidak hormat jika melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD 1945, penyelewengan terhadap jabatan hingga dijatuhi hukuman penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadlan berkekuatan hukum tetap, menjadi anggota atau pengurus partai politik dan dijatuhi hukuman penjara dua tahun karena tindak pidana terencana. (RED)

Kejari Bandung Musnahkan 12 Ribu Botol Minuman Alkohol

 

miras

Bandung, Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandung menggelar pemusnahan barang bukti di halaman parkir belakang, di Jalan Jakarta, Rabu (17/7/2013). Sebanyak 12.546 botol minuman beralkohol dari berbagai merk dimusnahkan dalam kegiatan pemusnahan barang bukti ini dengan dilindas dengan alat berat (setum).

Botol-botol minuman tersebut merupakan barang bukti dari 2 perkara tindak pidana khusus yang telah diputuskan di Pengadilan Negeri (PN) Bandung. Yaitu perkara dengan terdakwa Basmi Ginting yang telah diputus PN Bandung pada April 2013 dan perkara dengan terdakwa Berlin Silalahi yang diputus pada September 2012 lalu.

Rincian dari perkara Basmi Ginting terdiri dari 360 botol minuman alkohol golongan B Merk Anggur Gingseng Cap Rajawali isi 620 ml tanpa pita cukai, 8.809 botol MMEA Copacabana Anggur Gingseng Cap Rajawali kadar alkohol 15 persen tanpa pita cukai, 1.717 botol MMEA Copacabana Brandy V.S.O.P kadar alkohol 40 persen isi 350 ml tanpa pita cukai, 336 botol MMEA Vodka Copacabana alkohol kadar 40 persen isi 350 ml tanpa pita cukai. Dari perkara Basmi juga didapat 8.839 pita cukai bekas.

Sementara dari perkara Berlin Silalahi yaitu 720 botol munumal alkohol golongan B kadar 15 persen merk Kuda Mas ukuran 620 ml. Ribuan botol minuman yang telah dilatakkan pun kemudian dilindas setum hingga botol pecal. Secara simbolis, sebelumnya Kepala Kejari Bandung Febrie Adriansyah memecahkan botol dengan memukulkan ke badan setum.

"Hari ini kita musnahkan 12 ribu botol minuman keras dari beberapa perkara. Momentum ini pas dengan bulan Ramadan, untuk menekan kejahatan yang dipicu dari minuman keras," ujar Febrie.

Pemusnahan barang bukti ini juga menjadi pembelajaran bagi masyarakat bahwa proses hukum selama ini berjalan dari hulu ke hilir. "Kami disini sebagai eksekutornya," katanya.

Dalam pemusnahan ini, hadir Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Sutarno serta Kepala Satpol PP Kota Bandung Ferdi Ligaswara. (Hendra/MaI)

 

Rektor IPDN Tak Akui Anaknya

Sumedang, Dunia maya kembali geger. Kali ini, beredar sebuah tayangan berdurasi 32 detik yang menampilkan foto-foto bayi laki-laki yang lucu dan menggemaskan dengan berbagai pose. Hanya berupa foto, bukan tayangan gambar hidup.

Video yang diunggah seseorang bernama Dimas Sumaryadi itu berjudul "IPDN Dimas I Putu Sumaryadi anak yang tidak diakui oleh rektor ipdn bandung". Tercatat video singkat ini diunggah pada 4 April 2013 lalu dengan alamat
http://m.youtube.com/watch?v=0jiIUtTRvb0&desktop_uri=/watch?v=0jiIUtTRvb0.

Tayangan ini, hingga Rabu (5/6/2013) malam lalu, sudah ditonton oleh sekitar 1.289 orang. Dari jumlah tersebut, tercatat tiga orang menyukai tayangan ini dan satu orang yang tidak menyukainya. Video ini menampilkan 8 pose foto bayi laki-laki yang sama, tapi berbeda gaya.

Di bawah video tersebut, terdapat sebuah tulisan yang diduga memang sengaja ditujukan oleh pengunggahnya sebagai pesan terhadap Rektor IPDN. Namun entah apa maksud pengunggah video ini dengan menuliskannya di bawah video tersebut. Sekilas, apa yang diungkapkan dalam tulisan itu seakan menegaskan bahwa pengunggah adalah seorang wanita, ibu dari bayi laki-laki yang ada di tayangan YouTube.

Adapun tulisan itu menuturkan hal seperti di bawah ini :
"Dimas I Putu Sumaryadi adalah darah daging dari Rektor IPDN prof. DR. DRS. H I.NYOMAN sumaryadi, M.SI yang tidak diakui demi jabatan harta dan tahta. Hinaan cacian terhadap Dimas oleh beliau dan Nyonya Darwijati yang menyuruh membuang ke dalam tong sampah dan panti asuhan untuk menutupi aib dan karirnya. Alangkah teganya Rektor IPDN dan istrinya (Nyonya Darwijati)."

Rupanya, tudingan yang menyeret orang nomor satu di IPDN, Jatinangor - Sumedang tersebut, bukan hanya disebar di situs YouTube, tapi juga di jejaring sosial Facebook (FB). Tayangan di YouTube pun dipajang di dinding FB ini. Diduga pemilik akun FB ini adalah orang yang sama yang mengunggah foto-foto bayi laki-laki itu.

Informasi yang tercantum di akun FB tersebut, selain memuat bio data sang rektor IPDN, juga memuat tanggal lahir 10 Juni yang diduga sebagai tanggal lahir wanita atau ibu dari Dimas atau mungkin tanggal lahir dari bayi yang ada di YouTube itu.

Dalam info di akun FB, tertulis bahwa pemilik akun berstatus seorang janda. Tidak terlalu banyak informasi yang dapat digali dalam akun FB ini. Foto di akun FB, hanya ada dua buah, yaitu foto sampul satu buah dan foto profil satu buah.

Pada foto sampul memuat sejumlah mahasiswa/i IPDN yang berdiri di tangga sebuah bangunan di bawah tulisan IPDN. Pada foto profil, hanya menampilkan lambang dari IPDN berwarna biru.

Kedua foto yang ada di FB diunggah pada tanggal yang sama, 16 Mei 2013. Hanya berbeda waktu, yang satu pada pukul 02.14 dan satunya lagi pukul 02.24.

Beberapa hari sebelumnya, di bulan Mei, di dinding FB yang mengatasnamakan IPDN Dimas Sumaryadi ini terpampang sebuah tulisan berbunyi :
"Buat teman-teman pers silakan cek dan mengkonfirmasi kebenaran berita ini kepada pihak Rektor IPDN (I Nyoman Sumaryadi) dan pada waktunya nanti akan saya beberkan semua faktanya ke media massa kalau I Nyoman Sumaryadi tetap tidak mau mengakui Dimas I Putu Sumaryadi sebagai anak kandungnya sendiri beberapa detik yang lalu."

Bahkan pada hari yang sama, orang yang memiliki akun FB lagi-lagi dengan beraninya mencantumkan biodata dari orang nomor satu di IPDN berlokasi di Jatinangor, Sumedang, I Nyoman Sumaryadi. Cukup lengkap data yang dicantumkan di sini. Semisal, tudingan kasus yang mengemuka pada 2007 lalu berkaitan dengan kabar meninggalnya salah seorang praja.

Kasus ini cukup menghebohkan lantaran Rektor IPDN yang menjabat kala itu, yaitu I Nyoman Sumaryadi dituding ikut campur dalam meninggalnya salah seorang pelajar asal Manado, Cliff Muntu. Dalam pemberitaan tersebut, Nyoman terbukti dinyatakan bersalah berdasarkan tindakannya yang telah membuat surat palsu dengan memulihkan kembali status praja IPDN yang dinonaktifkan karena terlibat penganiayaan.

Setelah Tribun melakukan penelusuran, seorang wanita berinisial 'S' mengakui dialah yang mengunggah video di YouTube tersebut. Wanita berusia 35 tahun ini merasa dicampakkan oleh I Nyoman Sumaryadi yang saat ini menjabat sebagai Rektor IPDN.
S belum mau bertatap muka dan melakukan wawancara. Hanya mengungkapkan beberapa kekesalannya lewat pesan singkat kepada Tribun. "Saya tahu diri kalau saya bukan istri pertama I Nyoman Sumaryadi. Ceritanya panjang, singkat cerita. I Nyoman Sumaryadi mengkhianati cintanya dengan saya. Bahkan 9 bulan terakhir ini tidak mau mengakui Dimas anak kandungnya sendiri," ujar S.

Rektor IPDN, I Nyoman Sumaryadi saat dikonfirmasi perihal tayangan video di youtube maupun akun FB dengan tegas mengungkapkan, apa yang tertulis maupun diungkapkan di kedua media sosial tersebut, tidak benar.

"Saya kira, saya saat ini tidak dalam posisi represif untuk menanggapi hal ini. Zaman keterbukaan sekarang, orang mau berupaya mencari popularitas, mendiskreditkan orang, itu banyak. Benar dan tidaknya, jelas bagi saya, tidak benar," kata Nyoman saat ditemui di ruang kerjanya di IPDN, Jatinangor - Sumedang, Rabu (Tribunnews/MaI)

 

IPDN BUNGKAM

Sumedang - IPDN masih enggan berkomentar terkait tayangan video berdurasi 32 detik berisikan foto-foto bayi laki-laki dengan berbagai pose yang ada di You Tube.

Video yang diunggah oleh seseorang bernama Dimas Sumaryadi ini berjudul "IPDN Dimas I Putu Sumaryadi anak yang tidak diakui oleh rektor IPDN Bandung".

Menyangkut video itu Rektor IPDN I Nyoman sulit ditemui. Kabag Humas IPDN Ujad Rusdia, menyatakan rektor memang berada di kantornya sejak Jumat pagi (7/6/2013) hingga selepas siang.

Namun, pihaknya tidak bisa memastikan apakah pimpinanya itu mau menemui wartawan atau tidak terkait isu yang sudah ramai beredar di dunia maya dan beberapa media massa.

"Bapak sih ada hari ini sampai siang, tapi kan kadang agenda berubah-ubah, jadi nggak tahu juga apakah bisa atau tidak," kata Ujad.

Ujad hanya menyatakan pihaknya belum mendapatkan perintah atau intruksi apapun dari pimpinannya terkait isu yang sedang menimpanya.

"Saya nggak tahu ya, karena pimpinan belum mengintruksikan apapun," kata Ujad yang menyebutkan dirinya sudah menonton video tersebut namun enggan berkomentar.

Humas juga tidak menyimpulkan apakah isu ini merupakan suatu pencemaran nama baik lembaga atau tidak.

"Apapun masalah yang dihadapi kami tunggu dulu intruksi dari pimpinan," kata Ujad lagi.

Sampai selepas siang ini, I Nyoman masih sulit ditemui oleh sejumlah wartawan yang sudah menungguinya sejak pagi. Dari keterangan staf humas IPDN, agenda rektor hari ini hanya di seputar kampus saja.
Namun pada sore harinya, rektor biasanya ada kegiatan perkuliahan di Jakarta. Untuk bertolak ke Jakarta biasanya selepas siang rektor langsung meninggalkan ruangan kerjanya (Andriani/MaI)

 

SOSOK WILIAM MAKSUM PIMPINAN SEL BANDUNG

Bandung, William Maksum, salah seorang yang ditangkap Densus 88 dengan tudingan terlibat dalam kelompok teroris, disebut-sebut anak dari anggota Dewan Fatwa MUI Pusat, Ade Suherman, yang kabarnya pernah menyusun fatwa tentang terorisme.

Menurut Ade Suherman  William Maksum itu anak pertama dari enam anak saya. Saya sendiri anggota Dewan Fatwa MUI Pusat yang ikut menyusun fatwa menentang terorisme," aku ayah William, Ade di rumahnya di Jalan Cikoneng, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Sabtu  petang 11 Mei 2013.

Dikabarkan, William disergap Densus di Cigondewah, Rabu lalu, tiga orang terbunuh dan seorang tertangkap hidup. William sendiri, menurut Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo, diciduk Densus di kawasan Cipacing, Sumedang, Rabu lalu.

Selain disebut-sebut sebagai anak dari anggota MUI, William juga disebut-sebut pernah aktif dalam acara pengajian yang digelar Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT) saat masih dipimpin Abubakar Ba'asyir beberapa tahun lalu.

Sang ayah, Ade Suherman, menerangkan, William adalah anak sulung dari enam bersaudara. William lahir pada 12 April 1983.William menempuh pendidikan sekolah dasar di Cikoneng. Selepas sekolah dasar, Ade mengirim si sulung ini sekolah ke Pesantren Gontor, Jawa Timur. "Tapi, setelah lima tahun di Gontor, dia saya tarik pulang ke Bandung dan saya masukkan ke sekolah menengah atas yayasan milik saya sendiri, Yayasan Darul Hikmah di sini (Cikoneng)," kata dia.

Setamat SMA, William kuliah S-1 di jurusan Sastra Inggris Institut Agama Islam Negeri atau kini Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, Kota Bandung. Lulus S-1, William sempat mengikuti program S-2 di kampus yang sama.

Sekitar lima tahun lalu, William menikah dengan gadis pilihannya, Petra, kini 26 tahun. Pasangan muda ini kini sudah dikaruniai dua anak berumur 4 tahun dan 1,5 tahun. Setelah menikah, Ade memberikan keluarga kecil ini sebuah rumah di kompleks Bumi Sari Indah, Baleendah, Kabupaten Bandung.

Ade pun mengaku sempat meminta William menjadi pengajar honorer dan kepala bagian administrasi di sekolah Yayasan Darul Hikmah selama setahun sampai 2012 lalu. William, kata dia, juga pernah menjadi pedagang kaki lima berjualan kaus, jaket, dan barang konfeksi lainnya di lapangan Gasibu dan kawasan Bale Endah.

Saat dikonfirmasi MaI via telpon tentang kabar adanya anak anggota MUI Pusat yang ditangkap Densus 88, Aminuddin Yaqub (anggota Komisi Fatwa MUI Pusat) mengaku belum mengetahui informasi tersebut.

“Nanti saya cek dulu, apakah ada nama Ade Suherman di MUI Pusat. Mengingat MUI itu memiliki banyak perwakilan di sejumlah daerah, mulai dari tingkat kabupaten, kota, hingga kecamatan. Saya belum tahu itu,” ujarnya singkat. [Hendra/MaI]

Image
Maklumat Independen adalah berita online yang menyajikan informasi hangat seputar peristiwa dan perkembangan Ekopolisosbud. Di sini Anda bisa mendapatkan berita terbaru dari seluruh dunia dengan cepat.