April 20, 2021

FPI bubarkan kontes waria di Jakarta

Jakarta, Ajang kontes pemilihan Miss Waria yang digelar di Nyi Ageng Tirtayasa di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan dibubarkan paksa oleh Front Pembela Islam (FPI). Alasan pembubaran acara yang dihadiri 800 waria tersebut karena mereka tidak memiliki izin acara tersebut.

Dihubungi secara terpisah, Ketua DPP FPI DKI, Habib Alim Alatas membenarkan hal tersebut. Salim mengatakan saat mendatangi lokasi pemilihan ternyata didapati acara tersebut tidak mengantongi izin dari kepolisian dan pengelola gedung tidak mengetahui acara itu.

"Kemudian kami pulang, tetapi tenyata acaranya tetap jalan dan pukul 18.00 WIB langsung kami bubarin. Kami sempat ada komunikasi, mereka bilang katanya cuma acara makan-makan. Tapi ternyata ada agenda itu (miss waria). Mereka kabur kocar-kacir saat dibubarin," ujar Salim, Senin (3/12).

Salim menambahkan, saat membubarkan pihaknya didampingi oleh kepolisian. Dari FPI membawa 10 laskar dan saat ini sudah kondusif, mereka juga tidak ada perlawanan.

"Pokok intinya, kami menolak kontes waria, negara mau dibikin apa kalo begitu," tambahnya dia.

Sementara itu, Kepala Bagian Operasi Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Yossi Prihambodo membenarkan bahwa acara tersebut memang tidak ada izin dan dirinya membantah jika acara tersebut mendapatkan penolakan dari instansi tertentu.

"Nggak ada izinnya karena nggak direkomendasiin kok dari pemda dan memang acaranya nggak jadi digelar," imbuhnya.(Ian/MaI)

ALI SYARIATI SANG IDEOLOG REVOLUSI ISLAM

siah

Bandung, Mahasiswa Fakultas Sosialogi UIN Bandung dalam rangkaian acara “Sosiologi Day” menggelar  bedah buku bersama M. Subhi Ibrahim, M. Hum “Ali Syariati Sang Ideolog Revolusi Islam” di Aula UIN Bandung Jl. A. H Nasution No.105 Bandung (14/11). Dihadirkan pulan sebagai pembanding dalam diskusi Fuad Mahbub Siraj, Ph. D selaku dosen Universitas Paramadina dan Miftah R.Rakhmat, M.Si yang hadir mewakili ayahnya Jallaludin Rakhmat yang berhalangan hadir.

Menurut M. Subhi Ibrahim, M. Hum bahwa buku yang ia tulis berawal dari tesisnya yang ingin menggabungkan filsafat Islam dengan persvektif Barat. Buku ini adalah metamorfosis dari tesis yang saya buat dan bisa ditarik menjadi buku filsafat maupun sosiologi.

“Ali Syariati menolong saya untuk kembali menemukan Tuhan, dulu saya terlalu kagum dengan pemikir-pemikir dari Eropa”, tegasnya.

Subhi Ibrahim menambahkan bahwa Ali Syariati sering mengkritik kampus-kampus, ia mengatakan banyak orang pintar tapi hanya di menara gading. Mereka hanya berbicara tentang perubahan dunia tapi tidak bisa merubah dunia. Ali mencoba menafsirkan simbol-simbol agama menjadi simbol-simbol revolusioner, ideologi Ali adalah menggabungkan ideologi Iran antara kaum komunis dengan ulama.

Sedangkan menurut Fuad Mahbub Siraj, Ph. D, Dosen Universitas Paramadina mengungkapkan bahwa Revolusi adalah perubahan yang cepat terkait prinsip-prinsip pokok dalam kehidupan, revolusi tidak akan terjadi jika tidak ada landasan revolusioner. Ideologi erat kaitannya dengan kaum intelektual, kapitalisme dan sosialisme adalah ideologi Barat yang berangkat dari pola pikir manusia yang tidak sepenuhnya benar dan relevan dan bersifat statis. Tetapi Ali menawarkan ideologi Islam, yang Islam sendiri senantiasa dijaga oleh Allah dan berjalan dinamis, dan itu merupakan solusi bagi kondisi Iran.

Fuad Mahbub Siraj menambahkan bahwa revolusi Iran terjadi sekitar tahun 1979 dengan melakukan dialog antar peradaban, agama dan mahzab. Sedangkan Indonesia sudah lebih dulu melakukan revolusi dengan lahirnya Pancasila, tetapi problem titik temu dialog tidak diaplikasikan dengan baik hingga sering terjadi kekerasan antar suku, agama, perbedaan dan sebagainya.

“Ada 3 agenda yang perlu dilakukan Indonesia yaitu, revolusi kebudayaan, revolusi agrarian dan revolusi kesadaran”, tegasnya.

Menurut Miftah R.Rakhmat, M.Si mengatakan bahwa revolusi Islam dilakukan lewat ideologi. Ideologi tidak terlepas dari manusia besar atau peristiwa besar. Semangat perjuangan Imam Husain dan penantian terhadap Imam Mahdi ada dalam buku ini. Di Iran, dengan mempersiapkan diri, mengabdi pada masyarakat dan memperbaiki tatanan hidup dilakukan untuk menunggu datangnya Imam Mahdi.

“Pada saat itu, Ali melakukan pengorbanan pada orang-orang tertindas yang diapresiasi oleh masyarakat. Kebesaran Imam Khumaini lebih besar pengaruhnya terhadap revolusi Iran, tetapi Ali pun berperan membentuk revolusi Iran”, ungkapnya.(Novi/MaI)

Nelayan Sandera 2 Kapal Pengguna Pukat Harimau

pukat

Deli Serdang: Ratusan nelayan tradisional di Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang, Sumatra Utara, menyandera dua unit kapal penangkap ikan yang menggunakan pukat harimau. Penyanderaan ini sebagai bentuk kemarahan nelayan tradisonal pada maraknya penggunaan pukat harimau.

Dua kapal penangkap ikan KM Rejeki Abadi Jaya asal Belawan, Medan, ditangkap nelayan karena kedapatan menangkap ikan menggunakan alat tangkap pukat harimau di sekitar perairan Pantai Labu. Kedua kapal dan enam orang anak buah kapal digiring ke perkampungan nelayan di Desa Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu.

Ratusan warga nelayan berkumpul di sekitar muara menyaksikan dua kapal yang ditangkap itu. Bahkan, sejumlah nelayan yang marah sempat akan membakar kedua kapal yang ditangkap. Namun, tindakan main hakim sendiri itu dapat dicegah personel TNI Angkatan Laut yang berada di lokasi.

Menurut para nelayan, keberadaan kapal dengan alat tangkap pukat harimau mengancam kehidupan nelayan tradisional di Kecamatan Pantai Labu. Kapal dengan pukat harimau menggunakan jaring halus dan beroperasi hingga ke dasar laut. Rumpon yang menjadi tempat berkembang biak ikan rusak.Hingga berita ini ditulis, nelayan masih menyandera kedua kapal tersebut. Mereka menunggu kehadiran pemilik kapal untuk melakukan perundingan. (Surya Dharma/MaI)

Neneng Sebut Anas Melarangnya Pulang ke Indonesia

neneng

Jakarta, Neneng Sri Wahyuni, terdakwa kasus korupsi  proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kemennakertrans tahun 2008, mengaku sebelumnya ingin kembali ke Indonesia bersama suaminya, Nazaruddin, dari Singapura.

Mereka ingin pulang karena Nazaruddin akan memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2011, terkait penyidikan kasus korupsi di proyek pembangunan Wisma Atlet. Namun, menurut Neneng, Ketua Umum Anas Urbaningrum melarang kepulangannya.

"Waktu itu suami saya berobat, dan ternyata ada perintah dari atasannya (Anas), agar suami saya tidak usah kembali ke Jakarta, dan diharuskan menunggu sampai situasi kondusif, yaitu diperkirakan tiga tahun lagi, pada 2014 baru dapat kembali ke Jakarta," kata Neneng dalam nota keberatan (eksepsi) pribadinya yang dibacakan oleh penasihat hukumnya, Elza Syarief di Pengadilan Tipikor, Kamis (8/11/2012).

Awalnya, Neneng membacakan sendiri eksepsi itu, namun karena tak kuasa menahan tangis, eksepsinya dilanjutkan oleh penasihat hukum.

Dalam eksepsi itu, tak diungkapkan mengapa Anas melarang Nazaruddin kembali ke Jakarta. Neneng juga membantah mengetahui proyek PLTS.

Ia mengaku tidak pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan di PT Anugerah. Semua tudingan yang diarahkan padanya dianggap tak benar.

"Saya berani menghadapi masalah ini, karena saya tidak pernah terlibat di proyek apapun. Saya tidak tertangkap KPK, melainkan secara sukarela pulang dan menyerahkan diri pada KPK," ujarnya.

Saat dikonfirmasi lebih lanjut mengenai larangan Anas usai sidang, Neneng enggan menjawabnya.

Neneng didakwa jaksa penuntut umum (JPU) KPK, melanggar pasal 2 ayat 1 junto pasal 18 UU Tipikor junto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP atau pasal 3 junto pasal 18 UU Tipikor junto pasal 55 ayat 1 KUHP. Ia terancam pidana penjara maksimal 20 tahun penjara.

Neneng disebut secara sendiri dan bersama-sama Muhammad Nazaruddin, Marisi Matondang, Mindo Rosalina Manulang, Arifin Ahmad, dan Timas Ginting, telah melakukan tindak pidana korupsi.

Neneng yang sempat melarikan diri ke Malaysia, dianggap melakukan intervensi terhadap pejabat pembuat komitmen (PPK) dan Panitia Pengadaan dan Pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), pada Satuan Kerja Direktorat Pengembangan Sarana dan Prasarana Kawasan di Kemenakertrans, yang bersumber pada APBN-P 2008.

Ia juga mengalihkan pekerjaan utama PT Alfindo Nuratama Perkasa sebagai pemenang kepada PT Sundaya Indonesia, dalam proses pelaksanaan pekerjaan Pengadaan dan Pemasangan PLTS yang bertentangan dengan Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang pelaksanaan pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Akibatnya, istri mantan Bendahara Umum Partai Demokrat dianggap telah memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu koorporasi.(Ian/MaI)

CARTIWAN VS PT. KAHATEX

kahatex

Bandung, Setelah sebelumya, persidangan kasus PHK di PT. Kahatex atas Cartiwan pada 4 Oktober 2012 yang lalu batal digelar karena pihak PT. Kahatex berhalangan hadir. Pada hari ini Kamis 11 Oktober 2012 persidangan digelar dengan agenda menghadirkan saksi-saksi di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Jl. Soekarno Hatta No.584 Bandung.

Ada 3 saksi yang dihadirkan Penggugat pada persidangan, yaitu Sri Martati, Doni Setiawan dan Cakra, mereka merupakan karyawan PT. Kahatex. Saksi-saksi yang dihadirkan memberikan keterangan perihal permasalahan yang terjadi.

Menurut Kuasa Hukum PT. Kahatex, Yayat Ruhiyat Dengan adanya pemberitaan dari media lokal Sumedang yang mengatakan ada ribuan karyawan PT. Kahatex yang di PHK otomatis kita merasa dirugikan, para pelanggan dan buyers pada protes. “Ketika kami minta faktanya dia ga punya, berarti fitnah itu, jelas memberikan keterangan palsu di media,” tambahnya.

Yayat menambahkan, kalau ada ribuan karyawan di PHK, maka kantor akan tutup, logikanya seperti itu. Kita lebih baik menjaga dan melindungi yang 36 ribu dari pada harus menerima yang satu orang ini. Minggu depan kami siap memberikan kesaksian, dan minggu lalu kami tidak hadir karena saya perwakilan dari Apindo Sumedang kebetulan ada pembahasan mengenai upah untuk 2013 nanti yang tidak bisa ditinggalkan.

“Kalau eksport dan import kita diblok perihal masalah ini, maka yang 36 ribu karyawan harus PHK, ini kan menjadi persoalan. Dari awal kita juga baik-baik, damai ternyata dia tidak mau membuat surat permohonan maaf yang disodorkan kronologis kejadian, kan tidak etis, ” tegasnya.

Sedangkan menurut Cartiwan, ia dan kuasa hukumnya meminta kesempatan lagi kepada majelis hakim untuk menghadirkan saksi, saya bisa menguatkan apa yang saya sampaikan. Saya diskorsing 9 Februari 2012, dicabut skorsingnya itu 16 Februari 2012 lalu tanggal 17 Februari saya bekerja kembali tapi ditahan oleh tergugat Yayat itu. “Saya minta surat penahanannya malah datang tanggal 20 Februari dengan surat proses penetapan PHK, saya dituduh melakukan pencemaran nama baik,” tambahnya.

Sedangkan Kuasa Hukum Cartiwan, Mangring Sibagaria mengatakan kalau dari kronologis sebenarnya ini ada pengaduan lalu diproses oleh organisasi, diajukan ke pihak perusahaan, tapi perusahaan belum ada tindak lanjutnya maka muncullah audiensi ke DPRD. Untuk yang kasus pensiun juga tidak ada tindak lanjutnya dari perusahaan, menurut aturan dalam PKB batas umur pensiun itu 55 tahun, sementara ada karyawan yang umurnya lebih dari 58 tahun masih dipekerjakan dengan mengabaikan hak-hak mereka. Oleh organisasi sendiri sudah mengajukan ke perusahaan untuk pensiun, namun masih dipekerjakan.

“Setiap ada kesalahan dari pegawai itu seharusnya ada peringatan, peringatan pertama, kedua dan ketiga, tidak harus langsung skorsing. Dan ketika ada surat permohonan maaf, klarifikasi kepada pimpinan perusahaan harusnya skorsing dicabut dan dipekerjakan kembali, ini mah tidak malah di PHK,” tambahnya.(Novi/MaI)

Image
Maklumat Independen adalah berita online yang menyajikan informasi hangat seputar peristiwa dan perkembangan Ekopolisosbud. Di sini Anda bisa mendapatkan berita terbaru dari seluruh dunia dengan cepat.