April 21, 2021

Granat Diduga Aktif Ditemukan di Tempat Sampah Pasar Sederhana

Bandung, Satu buah granat ditemukan petugas sampah di tempat pembuangan sementara (TPS) Pasar Sederhana, Kelurahan Pasteur, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Kamis (18/7/2013). Granat tangan berbentuk bulat dan berwarna hijau itu diduga masih aktif.


"Secara kasat mata pemicu serta pengamannya masih ada," jelas Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Sutarno kepada wartawan di lokasi penemuan granat di Jalan Sederhana.

Guna memastikan aktif atau tidak, kata Sutarno, pihaknya perlu penyelidikan dengan melibatkan Jihandak Satbrimob Polda Jabar. Petugas dari Tim Jihandak yang datang ke lokasi pun segera mengamankan granat tersebut.

"Setelah tadi ada laporan penemuan granat, saya meminta anggota dan Kapolsek Sukajadi untuk langkah-langkah mengamankan lokasi. Kepastian aktif atau tidak, nanti dicek Jihandak," kata Sutarno.

Sutarno mengatakan granat itu pertama diketahui oleh salah satu petugas pengambilan sampah, Suwanto (25), sekitar pukul 10.15 WIB. Petugas terkejut setelah tak sengaja menemukan granat yang berada dalam tumpukan sampah.

Berdasarkan keterangan Suwanto, diduga granat itu terangkut dari roda sampah milik Koko Zakaria (72). "Tapi untuk mengetahui pastinya, kami akan telusuri dari mana granat itu berasal," jelas Sutarno (Baban/MaI)

 

Polri Periksa 54 Polisi dalam Kasus Bima

Markas Besar Polri telah memeriksa 52 anggota Polri, termasuk dua perwira pengendali massa (pamdal), dalam kasus Bima, Nusa Tenggara Barat. Tim yang dipimpin Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Komisaris Jenderal Polisi Fajar Prihantoro juga memeriksa enam warga sebagai saksi atas peristiwa di Pelabuhan Sape, Bima, Sabtu lalu (24/12).

Kapolda NTB Benarkan Ada 2 Korban Tewas di Pelabuhan Sape

Kapolda Nusa Tenggara Barat Brigadir Jenderal Polisi Arif Wachyunadi membenarkan adanya dua korban tewas dalam pembubaran paksa blokade Pelabuhan Sape, Bima, Sabtu (24/12).

Kapolda menyatakan, polisi menangkap 39 orang, 25 pria dewasa, 6 anak-anak dan 5 perempuan. Polisi juga menangkap tiga orang yang diduga provokator, yakni HSN (DPO Polda Nusa Tenggara Timur), An alias Owen dan SBD, salah seorang PNS di Kabupaten Bima.

Menurut Arif, seharusnya demo dilakukan di areal pertambangan emas yang dipermasalahkan, bukan dilakukan di area publik seperti pelabuhan. "Apa yang dilakukan polisi sudah sesuai prosedur. Mulai dari pelayanan, pengendalian, penanggulangan hingga penindakan," ujar Arif.

Dua korban tewas bernama Syaiful, 23 tahun, dan Arif Rahman, 19 tahun. Keduanya warga Desa Sumi, Kecamatan Lambu. Selain korban tewas, juga ada 10 orang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bima.

Karena dibubarkan paksa, warga marah. Mereka melampiaskan kemarahan dengan membakar Polsek Lambu, sejumlah rumah dinas polisi, beberapa kantor dan fasilitas milik pemerintah.

Blokade Pelabuhan Sape dilakukan Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) sejak pekan silam. Mereka meminta Pemerintah Kabupaten Bima supaya mencabut SK 188 tentang  eksplorasi pertambangan emas di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu.

Mereka mendesak supaya pihak kepolisian segera membebaskan Adi Supriadi yang ditangkap polisi sebulan lalu karena dugaan provokator dalam aksi unjuk rasa yang berakibat pada pembakaran Kantor Camat Lambu.(Ian/Mal)

Korban Tewas Rusuh di Bima Diduga Jadi 4 Orang

Pembubaran paksa aksi pendudukan warga Kecamatan Lambu di Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (24/12) pagi, oleh polisi menelan korban jiwa. Menurut saksi mata, Lubis, korban tewas diperkirakan berjumlah empat orang. Dua di antaranya bernama Arif Rahman (19), dan Saiful (17). Keduanya seorang pelajar.

Menurut Lubis, semua jenazah telah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Bima. Lubis menjelaskan, saat pembubaran sebagian besar massa yang tergabung dalam Front Rakyat Anti-Tambang (FRAT) itu sedang tidur. Mereka sudah enam hari memblokade pelabuhan, menuntut pencabutan SK 188 tentang Eksplorasi Pertambangan Emas di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu, dan pembebasan Aldi Supriadi, kader Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Bima yang ditahan polisi sebulan lalu.

Jumlah warga saat itu hanya ratusan. Setelah salat Subuh, sebagian warga kembali ke rumah untuk menyiapkan logistik. "Tiba-tiba pukul 06.00 waktu Indonesia tengah, lebih seribu pasukan Brimob dan polisi melakukan penembakkan membabi-buta tanpa tembakan peringatan," kata Lubis.

Warga kaget dan kocar-kacir menyelamatkan diri. Sejumlah warga, kata Lubis, terkena peluru, baik peluru karet maupun peluru tajam. "Diluar itu masih banyak korban yang belum teridentifikasi," jelas Lubis. Warga tidak melawan. "Karena posisi kami tetap bertahan dan tidak mau konforntasi langsung dengan polisi," jelas Lubis. Menurut Lubis, musuh mereka bukan polisi.

Lubis menjelaskan, sebelumnya memang ada imbauan dari aparat agar warga membubarkan diri. Namun, warga berkeputusan tetap bertahan. Warga hanya mau membubarkan diri apabila ada upaya duduk bersama melalui perundingan. "Kalau ada jalur diplomasi, kami mau. Tapi polisi mau membubarkan paksa," jelas Lubis. Akhirnya, insiden itu pun terjadi. Massa warga yang terpecah-pecah membakar Polsek Sape, dan kantor DPRD Bima.

Blokade ini buntut kemarahan warga setelah Pemerintah Kabupaten Bima menerbitkan SK 188 tentang Eksplorasi Pertambangan Emas di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu. Dalam SK itu Pemerintah Kabupaten Bima hanya mengizinkan perusahaan tertentu menambang emas. SK itu menyebut pertambangan tradisional warga sebagai tindakan melawan hukum. Hal ini dinilai diskriminatif dan merugikan warga Lambu. (Ian/Mal)

Bima Rusuh,Kapolda dituntut Mundur

Mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat Lambu menggelar unjuk rasa di pintu gerbang markas Polda Nusa Tenggara Barat di Mataram, Sabtu (24/12). Mereka menuntut pertanggungjawaban Kapolda Nusa Tenggara Barat terkait insiden kekerasan oleh polisi saat membubarkan paksa unjuk rasa di Pelabuhan Sape.

Insiden berdarah di Sape mencuat saat aparat Polres Bima yang didukung Satuan Brigade Mobil (Brimob) Polda Nusa Tenggara Barat, membubarkan paksa aksi unjuk rasa ribuan warga disertai blokade ruas jalan menuju Pelabuhan Sape, Bima. Blokade telah berlangsung sepekan terakhir.

Polisi membubarkan pengunjuk rasa dengan tembakan hingga dua orang dilaporkan tewas terkena tembakan dan puluhan warga pengunjuk rasa lainnya luka-luka. Kedua korban tewas itu dilaporkan bernama Arif Rahman dan Syaiful, keduanya warga Desa Suni, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima.

Mahasiswa menyayangkan tindakan represif yang dilakukan aparat kepolisian dalam membubarkan pengunjuk rasa di Pelabuhan Sape. Mereka menuding polisi lebih memihak Bupati Bima Ferry Zulkarnaen yang enggan mencabut Izin Usaha Pertambangan yang diberikan kepada dua pengusaha tambang.

Kedua perusahaan tambang pemegang IUP itu masing-masing PT Sumber Mineral Nusantara dengan luas wilayah tambang 24.980 hektare dan PT Indo Mineral Citra Persada dengan luas wilayah tambang 14.318 hektare.

Semenatara itu di Makasar,sejumlah mahasiswa asal Bima menggelar unjuk rasa di depan Monumen Mandala, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/12). Mereka memprotes kekerasan aparat terhadap warga Lambu yang menduduki dan memblokade Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Mahasiswa sempat memblokir jalan dan menahan mobil Pangkoopsau Hasannuddin, Makassar, yang melintas di Jalan Jendral Sudirman, Makassar. Mereka memprotes keras aksi penembakan yang dilakukan aparat kepolisian yang telah menewaskan dua orang warga.

Mahasiswa menuntut agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera membentuk tim pencari fakta terkait pelanggaran hak asasi manusia yang sering terjadi di Bima. Mereka juga meminta Kapolri untuk mencopot jabatan Kapolda NTB, Kapolres Bima serta Kapolsek Lambu dan Sape.

Mahasiswa juga meminta kepada Bupati Bima Fery Zulkarnain untuk mancabut semua izin tambang yang ada di Kabupaten Bima. Karena tambang yang ada tidak membawa manfaat buat masyarakat.

Warga menduduki dan memblokade Pelabuhan Sape untuk menuntut pencabutan SK Pemerintah Kabupaten Bima Nomor 188 terkait pertambangan emas di wilayah mereka. Pemerintah Kabupaten Bima hanya mengizinkan perusaan tertentu menambang emas, serta menyebut pertambangan tradisional warga sebagai tindakan melawan hukum.

Menurut warga, perlakuan itu diskriminatif dan merugikan warga Lambu. Warga kukuh membokade Pelabuhan Sape sebelum permintaan mereka dipenuhi bupati. Karena tidak ada titik temu, polisi membubarkan paksa.(Ian)/Mal)

Image
Maklumat Independen adalah berita online yang menyajikan informasi hangat seputar peristiwa dan perkembangan Ekopolisosbud. Di sini Anda bisa mendapatkan berita terbaru dari seluruh dunia dengan cepat.