April 21, 2021

MUSEUM GEOLOGI LIBURAN TEPAT UNTUK ANAK

Bandung, Pesta Ujian Akhir Semester (UAS) telah usai, banyak anak merencanakan liburan bersama keluarga untuk menyegarkan kembali otak yang telah bekerja keras. Pilihan tempat liburan yang pas menjadi keharusan agar anak memiliki kesan yang kuat. Museum Geologi Bandung menawarkan liburan yang menyenangkan, murah dan mengandung unsur edukasi bagi anak.

Pemutaran film di Auditorium Museum Geologi, Jl. Diponegoro No. 57 Bandung menjadi andalan untuk memikat hati para pengunjung. Dengan menyuguhkan film produksi BBC berjudul "Mesin Waktu" dengan durasi sekitar 15 menit, para pengunjung diajak untuk ke liling dunia melihat sejarah bumi dan makhluk hidup dari zaman ratusan tahun yang lalu.

Film garapan Produser Adam White ini menceritakan tentang perubahan bumi yang disebabkan oleh peristiwa alam seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus dan lainnya. Ditampilkan pula penemuan fosil-fosil makhluk purba berumur ratusan tahun yang lalu. Ada pula penjelasan tentang terbentuknya Pegunungan Himalaya.

Dikisahkan tentang Benua Afrika yang terpotong karena gempa bumi, dan potongan benua tersebut terbawa arus hingga bertabrakan dengan Benua Asia. Tabrakan yang keras menyebabkan dasar benua yang ada di bawah laut muncul ke permukaan dan terbentuklah Pegunungan Himalaya dengan Puncak Everestnya. Di pegunungan Himalaya banyak ditemukan fosil-fosil hewan laut yang ikut terangkat ketika peristiwa itu terjadi.

Menurut Tegar, pengunjung Museum Geologi Bandung mengatakan bahwa ini kali pertama dirinya mengunjungi Museum Geologi dan merasa tertarik. Saat menonton film banyak pelajaran yang bisa didapatkan.

"Dengan harga tiket 2 ribu saja saya bisa mendapatkan ilmu dan hiburan sekaligus, saya senang berkunjung kesini", ungkapnya.

Pusat Informasi Museum Geologi Bandung menerangkan mengenai Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 2012 tentang jenis tarif atas penerimaan negara bukan pajak, yang berlaku pada kementrian enargi dan sumber daya mineral. Sejak tanggal 1 September 2012 di Museum Geologi Bandung diberlakukan tiket masuk.

Tiket masuk bagi pelajar dan mahasiswa sebesar 2 ribu rupiah, untuk umum 3 ribu rupiah dan untuk orang asing atau pelajar asing sebesar 10 ribu rupiah. Untuk jam operasional, Museum Geologi Bandung dibuka dari hari Senin-Kamis dari pukul 08.00-16.00 WIB, hari Sabtu-Minggu dari pukul 08.00-14.00 WIB. Untuk hari Jumat dan libur nasional Museum Geologi ditutup.(Novi/MaI)

Privatisasi BUMN Menurut Mahasiswa

BANDUNG (MaI) - Bertempat di  sekretariat GMKI Bandung Jalan Dago No  109 Kota Bandung, sejumlah mahasiswa  dari berbagai perguruan tinggi, dan organ  Ekstra, seperti Unpad, ITB, Unpas, Uninus, STHB, Unpar, GMKI, GmnI, PMKRI, selenggarakan diskusi dengan tema Privatisasi.

Fani Mahasiswa fakultas Hukum Bisnis smester 8 Universitas Padjajaran Bandung yang merupakan pemenang lomba debat antar kampus se Nasional hadir sebagai pembicara.
Fani menyampaikan bagaimana pertama kali lahir Privatisasi di Erofa bertujuan untuk memperbaiki Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kemudian akhirnya dijadikan sebuah syarat dalam lembaga International/ IMF bahwa sitem Privatisasi wajib di dijalankan oleh Negara yang melakukan kerjasama. Selain itu Fani juga menyampaikan bahwa BUMN terbagi dua dimana ada persero pengusaan sahamnya 51% oleh pemerintah, dan Perum penguasaan sahamnya 100% oleh Pemerintah. Fani menambahkan bahwa secara konstitusi adanya Privatisasi ini tidak keluar dari amanat UUD 1945 pasal 33. Fani juga menyimpulkan bahwa Privatisasi bisa dilakukan di indonesia namun pengelolaannya harus tetap dikontrol oleh Pemerintah.

seluruh peserta diskusi yang berlatar belakang mahasiswa mempunyai pendapat yang sama dengan Fani bahwa Privatisasi bisa dilakukan di Indonesia namun perlu ada kontrol Pemerintah, tapi kenyataannya bahwa dalam sistem perjanjian International Privatisasi ini mengandung azas perlakuan yang sama dalam melakukan persaingan Ekonomi, artinya itu memberikan peluang besar bagi Perusahaan swasta asing yang latar belakangnya mempunyai teknologi lebih baik dibanding teknologi perusahaan swasta Indonesia tentu akan dengan mudah memenangkan persaingan ekonomi, selain itu juga dengan adanya privatisasi yang berlandaskan perjanjian Internasional prusahaan makro pribumi yang latar belakangnya ber orientasi keuntungan tentu akan menghancurkan ekonomi mikro.

Forum pun akhirnya mengambil kesimpulan bahwa Privatisasi yang mengacu kepada perjanjian International(Azas perlakuan yang sama) di Indonesia belum bisa dijalankan karena prusahaan pribumi dalam persaingan Ekonomi dengan asing belum mampu, maka Privatisasi di Indonesia bisa dijalankan namun perlu adanya kontrol pemerintah, khususnya cabang produksi yang menguasai hajat atau kemakmuran hidup orang banyak.(Doni Rhomadona/ MaI)

Perempuan Berpendidikan Tinggi Baru 1,3 %

BANDUNG (Mai) - Kaum perempuan yang mampu menempuh pendidikan hingga pendidikan tinggi di Indonesia masih jauh dari target pemerintah. Bahkan dari sekitar 5% penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan tinggi hanya 1,3% diantaranya kaum perempuan.

Dari 230 juta penduduk Indonesia hanya 5% yang mengenyam pendidikan tinggi dan itupun gabungan antara perempuan dan laki-laki. Kalau perbandinganya pun bagus hanya 1:1,3% perempuanya. Budaya Indonesia yang masih mengutamakan laki-laki untuk lenih maju membuat kamu perempuan tersisihkan dan makin tersisih ditambah tingkat pendidikan dan biaya sekolah yang tidak murah membuat sulit sekali untuk mencapai pendidikan tinggi di Indonesia, banyak keluarga yang lebih memprioritaskan anak laki-lakinya ketimbang anak perempuanya untuk sekolah. Pendidikan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan martabat kaum perempuan, banyak yang tidak melanjutkan pendidikanya selepas SD.

Masalah lain yang masih menimpa perempuan di Indonesia adalah kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang di sekelilingnya, termasuk suami yang merupakan orang terdekatnya. Tingkat pemukulan, pemerkosaan dan pelecehan merupakan bentuk yang jelas bahwa martabat perempuan kurang diperhatikan di negara ini. Di dalam masyarakat perempuan belum bisa berggerak bebas. Bahkan ketika mengalami kekerasan dalam keluarga , perempuan tidak dapat melarikan diri dari masalah dan terpaksa untuk menerima masalah dan keadaan yang menimpanya tanpa bisa lari kemana-mana. (Hendra/MaI)

Anak Yatim Bogor Peroleh Ilmu Lingkungan Hidup

BOGOR (MaI) - Puluhan anak-anak yatim piatu di Kota Bogor nampak terlihat serius membaca buku buku Lingkungan Hidup yang tersimpan di mobil hijau atau mobil lingkungan hidup bantuan dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) Jilid II. Satu persatu  bocah ingusan itu tersebut antri memasuki mobil keliling tersebut yang kebetulan singgah di Saung Masyarakat Cinta Bogor (MCB) Jalan Dr. Sumeru Kelurahan Menteng Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, beberapa waktu lalu.

Sementara itu Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Dampak Lingkungan pada Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bogor Shahlan Rasyidi mengatakan, mobil hijau dioperasinalkan sebagai sarana untuk memberikan penyuluhan tentang lingkungan hidup kepada masyarakat di Kota Bogor. Mobil ini berkeliling ke Kelurahan-Kelurahan untuk memberikan penyuluhan tentang lingkungan hidup, tidak hanya kepada anak-anak, para pelajar, dan juga masyarakat luas. Melalui mobil ini Shahlan dan pihaknya memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pemanfaatan minyak jelantah yang akan diolah menjadi bio diesel untuk bahan bakar bus Transpakuan. Selain itu, mereka juga memberikan penyuluhan tentang pembuatan kompos cair, dan pengelolaan sampah.

 

Ia menjelaskan, mobil hijau ini dilengkapi dengan fasilitas lingkungan hidup antara lain alat pembuatan lubang biopori, alat pembuatan kompos. Selain itu dilengkapi tempat/sudut buku, alat permainan edukasi, media audio visual/Multimedia, TV, DVD, dan laptop. Mobil Lingkungan Hidup bantuan SIKIB Jilid II ini diterima Ketua Tim Penggerak (TP) Hj Fauziah Diani Budiarto yang diserahkan Ketua III SIKIB Ny. Syilvia Agung Laksono di Jakarta, 30 Juni 2011 lalu.

Penyerahan mobil hijau tersebut merupakan realisasi dari program SIKIB, salah satunya adalah program Indonesia Hijau, dimana Ibu Negara Hj Ani Yudhoyono pada tanggal 1 Desember 2007 lalu bersama tujuh organisasi perempuan telah memperkasasi gerakan pelihara dan tanam pohon. (Li/Kiki/MaI)

Ketua PGRI Jabar : Insentif Gubernur Terkendala di Tingkat Kabupaten/Kota

PGRI

Bandung (MaI)

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Jawa Barat, Edi Parmadi mengakui pencairan dana insentif tahun 2011 bagi guru terkendala di tingkat Kabupaten/Kota. Bahkan menurut Edi dana yang berasal dari Gubernur Jawa Barat itu sebenarnya sudah dicairkan dari Pemerintah Provinsi ke 26 Kabupaten/Kota se Jawa Barat. Dirinya pun merasa prihatin karena akibat kelalaian ini menyebabkan dana insentif Rp 100.000 per guru per tahun gagal dibayarkan. Menurutnya permasalahan pencairan dana insentif itu ada di Kabupaten/Kota bersangkutan. Dari 26 Kabupaten/Kota hanya 6 Kabupaten/Kota yang mengalami gagal pencairan.

Menurut Edi, akibat keterlambatan tersebut, maka insentif guru sebesar Rp100.000 per tahun dari Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di 6 kota/kabupaten tidak bisa dicairkan. Pasalnya, pencairan insentif itu terkendala mekanisme administrasi anggaran di Pemerintah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. "Ada 6 Kabupaten/Kota tidak bisa mencairkan bantuan insentif Rp100.000 dari Gubernur Jabar tahun 2011 alias hangus. Diantaranya Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kota Cimahi, dan Kabupaten Indramayu," ujarnya usai bertemu Heryawan di Gedung Negara Pakuan Jalan Otto Iskandardinata Kota Bandung, Kamis (16/2) pagi.

Lebih lanjut Edi menyatakan  seharusnya proses pencairan anggaran untuk kesejahteraan guru tersebut diproses di tahun 2011. Artinya tidak bisa diproses lagi di  tahun 2012. "Anggaran dari Pak Gubernur sih sudah turun ke kabupaten/kota masing-masing. Karena dananya berasal dari bantuan keuangan jadi proses pencairannya memang agak ribet harus melalui Surat Keputusan Bupati/Walikota dan persetujuan DPRD Kabupaten/Kota. Padahal uang itu sangat ditunggu para guru, khususnya guru honorer," tandasnya. Meski demikian, dirinya berharap ke depan adanya perbaikan mekanisme penyalurannya.

Edi juga menyampaikan rencana insentif akan diberikan lagi pada tahun anggaran 2012. Namun insentif diberikan hanya untuk guru swasta dan honorer, tidak lagi untuk guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti tahun anggaran 2011. “Rencananya memang untuk guru honorer saja. Insentif tersebut memang tidak untuk guru PNS karena sudah mendapkan gaji, tunjangan sertifikasi, dan insentif dari kabupaten kota masing-masing. Kalau tidak bisa di APBD murni, mungkin bisa dianggarkan pada APBD Perubahan 2012. Mudah-mudahan bisa lebih besar lagi,” ungkapnya.

Sebelumnya Heryawan menjelaskan pemberian insentif berawal dari permintaan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jabar kepada Gubernur agar memberi  insentif bagi guru-guru di Jabar. Insentif tersebut sebagai keberpihakan Pemprov Jabar

terhadap kesejahteraan guru. “Anggarannya disepakati Rp100.000 per guru per tahun dari  APBD 2011. Karena yang akan menerima insentif itu sekitar 421.000 guru, maka yang mengurusnya PGRI. Anggarannya cukup besar sekitar Rp 42 miliar. Maka ada kesepakatan yang mengurusnya PGRI dan pencairannya oleh kabupaten kota,” tuturnya.

(Hendra/Mal)

Image
Maklumat Independen adalah berita online yang menyajikan informasi hangat seputar peristiwa dan perkembangan Ekopolisosbud. Di sini Anda bisa mendapatkan berita terbaru dari seluruh dunia dengan cepat.