INDONESIA CIPTAKAN SEKOLAH AMAN BENCANA

JAKARTA (MaI) Dilatarbelakangi dengan berbagai kejadian kebencanaan yang menelan banyak korban dan membuat ribuan sekolah rusak, Menkokesra, Kepala BNPB, Menkes alm dan Wamendik mengadakan peluncuran kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman di Indonesia pada tanggal 29 Juli 2010. Dari hasil kampanye inilah banyaknya aktivis yang turun tangan dalam kegiatan menciptakan sekolah aman bencana.

“Dari sisi komunitas bencana, pentingnya sekolah aman ini untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan tindakan anak mengenai mitigasi bencana” ujar Yanti, Ketua Sekretaris Nasional (Seknas) Sekolah Aman ketika diwawancarai MaI.com via telephone (31/8).

Di Indonesian 75% sekolahnya berada di daerah resiko tinggi gempabumi. Kemdikbud mendata sampai akhir tahun 2011 sebanyak 194.844 ruang kelas rusak berat di SD/SDLB dan SMP/SMPLB. Tahun 2011 telah terealisasi rehabilitasi sebanyak 21.500 ruang kelas, sisanya sebanyak 173.344 ruang kelas rusak berat akan direhabilitasi pada tahun anggaran 2012. Sementara data Kemenag menunjukkan dari 208.214 ruang kelas MI dan MTs, sebanyak 13.247 ruang kelas rusak berat dan 51.036 ruang kelas rusak ringan.

Dengan keadaan sekolah di Indonesia yang seperti ini, munculah gagasan untuk menciptakan sekolah/madrasah aman bencana. Pedoman sekolah aman dari bencana ini diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas). Penyusunan pedoman ini melibatkan berbagai institusi seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), UNDP, World Bank, ITB, Yayasan  KerLiP dan organisasi lainnya.

Sekolah aman adalah komunitas pembelajar yang berkomitmen akan budaya aman dan sehat, sadar akan risiko, memiliki rencana yang matang dan mapan sebelum, saat, dan sesudah bencana, dan selalu siap untuk merespons pada saat darurat dan bencana. Sekolah aman bencana ini menjadi sesuatu yang penting untuk dilaksanakan.

“Tujuan dari upaya pembentukan sekolah aman bencana ini adalah di tahun 2014, sebanyak 75% sekolah/madrasah di Indonesia aman terhadap bencana baik struktural maupun non struktural” lanjutnya.

Jika dilihat secara struktural ada beberapa aspek yang harus dipenuhi dalam sekolah aman bencana, diantaranya lokasi aman dari bencana, struktur bangunan aman, design dan penataan kelas aman dan dukungan sarana prasarana aman.

Selain dari aspek struktural adapun aspek mendasar krangka kerja non struktural yaitu peningkatan pengetahuan, sikap dan tindakan, kebijakan sekolah/madrasah aman, perencanaan kesiapsiagaan, dan mobilitas sumber daya. (Desti/MaI)